Header AD

Kisah Wafat Sang Khalifah Yang Terkenal Bijak

Marilah kita simak bersama cerita meninggalnya khalifah yang adil Umar ibnu Abdul Aziz r.a. di bawah ini. Adapun cerita ini dinukil dari kitab al-Bidaayah wan nihaayah karangan Ibnu Kastir. Dalam kisah berikut, kita juga dapat melihat bersama bagaimana beliau memimpin pemerintahannya dengan adil setelah dipimpin dengan kekejaman dan ketidak-adilan oleh para pemimpin sebelumnya.


Ibnu Katsir menceritakan, sebagai berikut.

"Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz meninggal disebabkan oleh racun yang diberikan oleh salah satu budaknya di dalam makanan atau minumannya dengan imbalan seribu dinar. Karena itu, setelah meminum racun tersebut beliau pun sakit dan setelah diperiksa baru dinyatakan bahwa beliau terkena racun. Kemudian khalifah berkata, "aku ingat hari dimana aku meminum racun tersebut," lantas beliau pun memanggil budaknya yang telah berbuat nista tersebut, seraya berkata, "celakalah kamu, kenapa kamu sampai berani berbuat demikian?" sang budak segera menjawab, "demi seribu dinar yang dijanjikan kepadaku, wahai khalifah" khalifah lanjut berkata, "mana uang itu? berikan, dan taruhlah di baitulmal," beliau melanjutkan kembali, "pergilah kamu agar tidak ada orang yang melihat kamu sehingga kamu tidak celaka." Dengan rasa menyesal, budak tersebut meminta khalifah untuk mengobati dirinya, tetapi khalifah malah berkata, "demi Allah, andai saja kesembuhanku itu harus kutebus dengan sepotong telingaku atau mendatangi dokter maka niscaya aku tidak akan melakukannya."

Budak itu menimpali, "Anda memiliki 12 orang anak. Apakah anda tidak mau memberi wasiat kepada mereka, karena mereka semua orang-orang yang tidak punya?" khalifah dengan tegas menjawab seraya membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi, "Sesungguhnya, pelindungku adalah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (al-A’raaf :196).

"Demi Allah, aku tidak akan memberikan hak orang lain kepada anak-anakku karena mereka sendiri antara dua pribadi; orang yang saleh maka Allah akan menjadi wali orang-orang saleh, ataupun orang yang tidak saleh maka aku tidak akan mau menbantu kefasikan mereka." Dalam versi lain, "aku tidak perduli mereka akan jatuh di jurang mana saja." Versi lain lagi, "apakah aku harus berpesan tentang sesuatu yang dapat membantu mereka untuk bermaksiat kepada Allah maka aku akan dicatat bersekongkol dengan mereka atas apa yang mereka lakukan setelah aku meninggal nanti. Sungguh aku tidak akan melakukan itu." Lalu khalifah memanggil anak-anaknya dengan berpesan dan berwasiat kepada mereka seperti ucapan diatas.

Khalifah lanjut berpesan, "pergilah kalian, semoga Allah menjaga kalian dan berbuatlah yang terbaik pada pemerintahan kalian!"

Ibnu Katsir lanjut bercerita, "kami melihat setelah kejadian tersebut bahwa anak-anak khalifah Umar ibnu Abdul Aziz semuanya membawa 80 kuda untuk berperang di jalan Allah, sedangkan beberapa anak Sulaiman Abdul Malik, meskipun ia banyak meninggalkan harta untuk mereka, tetap meminta-minta kepada anak-anak Umar ibnu Abdul Aziz. Hal itu disebabkan karena Umar dan seluruh anaknya berjuang di jalan Allah, sedang Sulaiman dan para khalifah lainnya memberikan anak-anak mereka harta lalu dihambur-hamburkan semua harta tersebut sampai habis demi melampiaskan nafsu mereka saja."

Ya'qub ibnu Sufyan berkata, "Abu Nu'man meriwayatkan dari Hamad ibnu Zaid dan Ayub, ia berkata, "Umar ibnu Abdul Aziz ditanya, "Wahai Amirul Mu'minin, jika saja anda mau pergi ke Madinah, lalu Allah mencabut nyawa anda, niscaya anda akan dikuburkan bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar."

Khalifah dengan tukas menjawab, "Demi Allah, aku rela disiksa dengan siksaan apa saja kecuali api neraka dan aku akan tetap sabar untuk itu. Aku juga sangat senang bila aku mendapatkan kehormatan untuk dikubur disana."

Para sahabatnya bercerita, "sakitnya khalifah berupa hilangnya pendengaran sejak dari daerah Hamsh sudah berjalan selama 20 hari. Kemudian, tatkala sakaratul maut datang, sang khalifah berkata, "temanilah aku," maka para sahabatnya menemaninya.

Khalifah lanjut berkata, "wahai Tuhanku, akulah orang yang Engkau titahkan tetapi aku tidak mampu dan Engkau larang tetapi aku bermaksiat," beliau mengulanginya sebanyak tiga kali, kemudian berkata lagi, "akan tetapi aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah." Kemudian khalifah mengangkat kepalanya dan mulai menatap, para sahabatnya bertanya, "wahai Amirul Mu'minin, kenapa engkau menatap dengan serius!"

Beliau menjawab, "Aku sedang melihat kedatangan sesuatu yang bukan dari golongan jin ataupun manusia," tidak lama kemudian beliau pun meninggal.

Dalam versi lain diceritakan, khalifah berkata kepada keluarganya, "keluarlah kalian!" maka mereka pun keluar. Lalu Maslamah ibnu Abdul Malik dan saudara perempuannya Fatimah duduk di pintu kamar, mereka mendengarkan khalifah berkata, "selamat datang wajah-wajah yang bukan dari golongan jin ataupun manusia," kemudian khalifah membaca ayat, "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (al-Qashash:83).

Tidak lama kemudian suasana kembali tenang maka para keluarga segera masuk ke dalam kamar dan mendapatkan khalifah sudah terpejam dengan menghadap kiblat dan meninggal.

Al-Mughirah ibnu Hakim bercerita, "aku berkata kepada Fatimah ibnu Abdul Malik bahwa aku mendengar Umar ibnu Abdul Aziz berdoa tatkala ia sedang sakit, "Ya Allah, mudahkanlah untuk mereka urusanku walau sesaat saja!"

Lalu Fatimah menjawab, "aku bertanya kepada khalifah, "apakah aku harus keluar? Padahal anda belum tidur?"

Aku pun keluar dan mendengar khalifah membaca ayat, "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (al-Qashash: 83) dengan berkali-kali." Kemudian, aku berkeliling di luar kamar sampai lama hingga tidak mendengarnya lagi berbicara, lalu aku berkata kepada Wasif, "celaka!"

"aku menunggu lalu masuk sambil berteriak maka ketika aku masuk kudapati khalifah telah meninggal dengan menghadap kiblat dan meletakkan salah satu tangannya di mulut dan yang lainnya di kedua matanya."   /kisahislami/al-faqir
Kisah Wafat Sang Khalifah Yang Terkenal Bijak Kisah Wafat Sang Khalifah Yang Terkenal Bijak Reviewed by Tag on Juli 11, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar